Potensi Sotul Sebagai Tanaman Pendukung Rehabilitasi Lahan Kritis Di Dta Danau Toba
BERITA DAN ARTIKEL / September 15, 2017

Penghijauan adalah kegiatan yang terus digalakkan Pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini adalah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kegiatan penghijauan di beberapa tempat di Indonesia ada yang dikatakan cukup sukses dan adanya kurang berhasil. Kegiatan penghijauan seperti di Propinsi Bali adalah salah satu yang berhasil melaksanakan penghijauan. Salah satu faktor penyebab berhasilnya penghijauan di Propinsi Bali adalah adanya pertimbangan aspek religi dalam pelaksanaannya. Penghijaun dengan mempertimbangkan kearifan lokal suatu daerah akan memiliki peluang keberhasilan yang cukup tinggi dibandingkan dengan yang tidak. Pengalaman kegiatan penghijauan di Propinsi Bali dan Sumatera Utara tentu jauh berbeda. Kegiatan penghijauan di Propinsi Sumatera Utara tepatnya dekat dengan Daerah Tujuan Wisata Danau Toba dapat dikatakan masih belum cukup berhasil. Disatu sisi, masyarakat kurang menerima kegiatan penghijauan hal ini dapat dijumpai dengan banyaknya tanaman yang mati akibat ulah manusia. Rehabilitasi hutan dan lahan di DTA Danau Toba adalah masalah krusial yang harus diatasi mengingat perhatian pemerintah terhadap DTA Danau Toba sangat tinggi. Pemerintah Republik Indonesia dibawah kepemimpinan Bapak Joko Widodo memiliki komitmen yang tinggi untuk pemulihan ekosistem Danau Toba. Bukti komitmen Bapak Joko Widodo terhadap DTA Danau Toba ditandai dengan adanya kegiatan penanaman di empat lokasi, seperti: Hutaginjang Kabupaten Tapanuli Utara, Lokasi Wisata Sipinsur Kabupaten Humbang Hasundutan,…

Serunya Perayaan HUT 72 Republik Indonesia BP2LHK Aek Nauli
BERITA DAN ARTIKEL / August 18, 2017

Mengakhiri rangkaian peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia, hari ini Jumat, 18 Agustus 2017 Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli mengadakan kegiatan tracking santai di kawasan KHDTK Aek Nauli. Kegiatan ini merupakan kegiatan terakhir dari rangkaian kegiatan perayaan 17 Agustus 2017 yang telah dilaksanakan mulai dari tanggal 14 Agustus dan berakhir pada hari ini. Tracking santai ini dimulai dari lokasi kantor BP2LHK Aek Nauli dan berakhir di kawasan Ekowisata Gajah KHDTK Aek Nauli yang merupakan hasil kejasama BP2LHK Aek Nauli dengan BBKSDA Sumatera Utara dan Vesswic dalam mendukung Danau Toba sebagai destinasi pariwisata nasional. Kegiatan ini di ikuti oleh seluruh pegawai BP2LHK Aek Nauli yang dikomandoi oleh Ali Ngimron S.Hut., M.Eng. Tidak hanya tracking santai, sesampainya di lokasi ekowisata gajah, kegiatan dilanjutkan lagi dengan berbagai macam perlombaan, seperti lomba balap karung, lomba sendok kelereng, lomba melempar bola tenis, dll. Dalam kesempatan ini Ali Ngimron menyampaikan harapannya bahwa dengan adanya kegiatan ini kebersamaan selalu terjaga antara pegawai Aek Nauli dan dengan kegiatan ini menjadi awal yang baik untuk memulai kegiatan olahraga di Aek Nauli dan dapat dilaksanakan tiap minggunya. Antusias dan semangat  pegawai BP2LHK Aek Nauli dalam mengikuti kegiatan ini terlihat dari partisipasi pegawai yang bersedia mengikuti berbagai…

Sambungan: Pengembangan Situs-situs Budaya untuk Konservasi Lingkungan di Kawasan Danau Toba
BERITA DAN ARTIKEL / August 2, 2017

Strategi Pengembangan Obyek-obyek Wisata Alam di Kawasan Danau Toba Pengembangan obyek-obyek wisata alam berupa situs-situs budaya dan tempat sakral akan mempunyai nilai lebih jika dapat dikembangkan dengan baik dan dapat menjadi upaya mengkonservasi lingkungan di kawasan Danau Toba serta memberikan kontribusi bagi peningkatan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan Danau Toba. Berikut ini adalah beberapa strategi yang dapat dilakukan dalam pengembangan obyek-obyek wisata alam di kawasan Danau Toba, yaitu: 1.Memprioritaskan Program Pengembangan Obyek Wisata Alam Berdasarkan hasil studi literatur, obyek wisata alam berupa tempat sakral dan situs-situs budaya, belum menjadi prioritas dalam Renstra Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Samosir. Padahal, obyek-obyek wisata alam tersebut agar dapat menarik minat wisatawan baik wisatawan domestik maupun wisatawan luar negeri adalah dengan cara menjual keunikan-keunikan potensi obyek-obyek wisata alam tersebut. 2.Meningkatkan Promosi dan Sosialisasi Obyek Wisata Alam Upaya peningkatan promosi dan sosialisasi pengembangan obyek-obyek wisata alam sangat penting dilakukan agar obyek wisata alam dan destinasi dapat diketahui dan dikenal serta sebagai upaya untuk mengajak masyarakat luas mengkonservasi lingkungan, baik lingkup masyarakat nasional maupun lingkup masyarakat internasional. Program promosi dan sosialiasi merupakan cara yang tepat untuk memperkenalkan obyek wisata alam yang belum diketahui masyarakat, terutama keberadaan lokasi wisata dan obyek wisata yang akan dijual dan dapat dinikmati…

Pengembangan Situs-situs Budaya untuk Konservasi Lingkungan di Kawasan Danau Toba
BERITA DAN ARTIKEL / July 31, 2017

Kawasan Danau Toba adalah salah satu kawasan yang merupakan aset nasional dan memiliki nilai strategis bagi Provinsi Sumatera Utara dengan fungsinya antara lain yaitu, sebagai tujuan wisata, sumber air bagi penduduk, kegiatan perikanan, transportasi air, sumber air PLTA, pembangkit energi untuk industri dan sekaligus sebagai ekosistem sumber daya alam hayati dan non hayati. Salah satu nilai strategis yang terdapat di kawasan Danau Toba adalah adanya peninggalan-peninggalan manusia dari masa lalu yang memiliki nilai historis dan budaya tinggi. Peninggalan-peninggalan tersebut adalah obyek-obyek wisata alam berupa situs-situs budaya dan tempat sakral. Menurut Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya dikenal beberapa istilah yang terkait dengan peninggalan-peninggalan manusia dari masa lalu yaitu Cagar Budaya, Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya dan Kawasan Cagar Budaya. Dari beberapa istilah tersebut, Situs Budaya dan tempat sakral, termasuk dalam kategori situs cagar budaya. Situs Cagar Budaya menurut Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang mengandung Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan/atau Struktur Cagar Budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu. Seperti diketahui, sejak tahun 2016 Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) secara resmi dimulai di Indonesia. Sehubungan dengan pencanangan…

GERAKAN SADAR WISATA MENDUKUNG DANAU TOBA
BERITA DAN ARTIKEL / July 28, 2017

Pariwisata diyakini Pemerintah Indonesia masih tetap menjadi unggulan dan tumpuan bagi Indonesia. Keadaan masa krisis yang melanda negeri ini di masa lalu, sektor pariwisata diyakini para pakar dan praktisi mampu menjadi pioner pemulihan perekonomian Indonesia (Sugiantoro R, 2000). Peningkatan nilai ekonomi pada sektor pariwisata lebih prospektif dibandingkan  sektor pertambangan jika dikelola dengan baik karena sektor pertambangan menyisakan kerusakan lingkungan jika dikelola dengan baik (Kasali, 2008). Peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik pada suatu daerah obyek wisata akan memberikan efek domino bagi perekonomian daerah wisata tersebut bahkan negara kita. Gerakan sadar wisata adalah sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik. Gerakan sadar wisata dan menjadikan Sapta Pesona menjadi life style (gaya hidup) adalah salah satu solusi yang harus terus dikumandangkan kemana-mana untuk menarik minat wisatawan mancanegara dan domestik, seperti: Danau Toba. Danau Toba sebagai destinasi prioritas terletak di deretan Pegunungan Bukit Barisan dan menjadi salah satu daya tarik utama pariwisata di Sumatera Utara (Setiawan T, 2011). Kawasan Danau Toba berada di Provinsi Sumatera Utara secara administratif. Kawasan ini mencakup bagian dari wilayah administrasi dari 8 (delapan) kabupaten yaitu Kabupaten Samosir, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Dairi, Kabupaten Karo, Kabupaten Humbang Hansudutan, Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Simalungun dan…

Pembuatan Jalur Hijau pada Program RHL Dinas Kehutanan Karo
BERITA DAN ARTIKEL / July 25, 2017

Pada beberapa tahun terakhir ini sering terjadi bencana alam yang umumnya diakibatkan karena banyaknya kerusakan alam khususnya kerusakan hutan dan lahan yang antara lain diakibatkan karena  terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Memperhatikan hal ini maka diperlukan suatu gerakan ataupun kegiatan untuk mencegah agar bencana tersebut tidak terulang lagi di masa yang akan datang, salah satu kegiatan tersebut antara lain dengan Pembuatan Jalur Hijau/Penanaman Tanaman Sekat Bakar. Kegiatan ini dibuat mengingat masih banyaknya kejadian kebakaran terlebih pada musim kemarau baik di dalam kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan. Melalui  kegiatan ini diharapkan akan memperkecil terjadinya bencana kebakaran hutan dan lahan sekaligus sebagai sarana penyuluhan dan percontohan bagi masyarakat yang berada di sekitar kawasan hutan, merehabilitasi lahan, serta perbaikan  lingkungan. Kegiatan pembuatan jalur hijau/tanaman sekat bakar ini dilakukan di kawasan hutan Sipisopiso Reg. 10/K, UPDT Merek, Situnggaling, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, DAS DTA Danau Toba dengan luas 4,25 Ha. Dalam kegiatan ini memperhatikan keadaan tanah, keadaan iklim dan curah hujan, penggunaan lahan dan vegetasi, topografi serta aksesibilitas, sarana dan prasarana. Rencana kegiatan ini dimulai dengan pengumpulan data, penataan areal penanaman, persiapan sarana dan prasarana, penataan areal tanaman, persiapan kebutuhan dan jenis bibit, pengangkutan bibit, penanaman, renacana pemeliharaan, dan perlindungan tanaman. Pengumpulan…

Mendukung Pembangunan Danau Toba dengan Gerakan Reboisasi
BERITA DAN ARTIKEL / July 20, 2017

Sumberdaya  hutan dan lahan memberikan manfaat  yang tak ternilai bagi kehidupan umat, oleh karena itu keberadaan sumberdaya hutan wajib disyukuri, diurus, dan dimanfaatkan secara optimal. Kelestarian Hutan dan Lahan juga wajib dijaga baik fungsi dan kualitas Sumber Daya Hutan agar tetap memberikan manfaat secara optimal sebagai system penyangga kehidupan dan sumber kemakmuran rakyat.  Laju deforestasi atau pengurangan luas kawasan hutan dan degradasi atau Penurunan kualitas hutan pada masa sekarang ini telah mencapai tahap yang  mengkhawatirkan. Hal ini tentu saja akan mengurangi fungsi/daya guna hutan yang akan berimplikasi pada terganggunya siklus alam dan kehidupan manusia yang akan menimbulkan dampak negatif seperti banjir, kekeringan, dan tanah longsor, sehingga peranannya sebagai penyangga kehidupan kurang optimal. Kondisi kawasan hutan di Kabupaten Karo saat ini banyak mengalami gangguan akibat penggarapan liar yang dilakukan masyarakat, perambah hutan, kebakaran hutan, pencurian humus dan penggunaan lahan lainnya. Dampak kerusakan kawasan hutan Kabupaten Karo tidak hanya dirasakan masyarakat Karo sendiri, namun daerah tetangga juga merasakan akibatnya seperti Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Langkat yang sungainya berhulu di Kabupaten Karo. Untuk menanggulangi hal tersebut, perlu dilakukan upaya pemulihan dan upaya peningkatan kemampuan fungsi hutan, khususnya di kawasan hutan lindung, hutan produksi dan hutan konservasi dengan suatu gerakan Reboisasi atau…

Hutan Rakyat untuk Mendukung Pembangunan Danau Toba
BERITA DAN ARTIKEL / July 18, 2017

Beberapa tahun terakhir ini sering terjadi bencana alam yang umumnya diakibatkan karena banyaknya kerusakan alam khususnya kerusakan hutan dan lahan-lahan kritis. Memperhatikan hal ini maka diperlukan suatu gerakan atau kegiatan untuk mencegah agar bencana tersebut tidak terulang lagi dimasa yang akan datang. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan adalah penaman Hutan Rakyat, mengingat masih banyaknya lahan kritis ataupun lahan yang tidak produktif yang berada diluar kawasan hutan dengan kondisi masyarakatnya yang masih memerlukan pemberdayaan. Penanaman Hutan Rakyat yang dilakukan berada pada lokasi Juma Sijombing, Desa Pengambatan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sub DAS/DAS DTA Danau Toba. Pelaksanaan kegiatan ini memperhatikan jenis tanah, keadaan iklim dan curah hujan, penggunaan lahan dan vegetasi, topografi serta aksesibilitas, sarana dan prasarana. Rencana kegiatan pembuatan Kegiatan ini dimulai dengan pengumpulan data, penataan areal penanaman, persiapan sarana dan prasarana, penataan areal tanaman, persiapan kebutuhan dan jenis bibit, pengangkutan bibit, penanaman, rencana pemeliharaan, dan perlindungan tanaman. Dalam Pengumpulan data, data yang dikumpulkan adalah data Sosek dan Biofisik yang terdiri dari data primer yaitu data kondisi lingkungan, masyarakat desa setempat, mata pencaharian penduduk, keadaan tenaga kerja, serta data sarana dan prasarana. Data Biofisik  diambil langsung dari lapangan seperti pengukuran batas lokasi dengan menggunakan alat GPS, juga didapat data ketinggian tempat,…

Pengembangan Bambu untuk Rehabilitasi Lahan di Danau Toba
BERITA DAN ARTIKEL / June 22, 2017

Di DTA Danau Toba terdapat lahan kritis sekira 116.424 ha atau 42% dari daerah tangkapan air (Ginting, 2010). Program rehabilitasi di DTA Danau Toba telah dimulai sejak tahun 1950-an. Ribuan hektar lahan direhabilitasi, namun keberhasilan program dipertanyakan mengingat rendahnya kemampuan bertahan hidup tanaman (Tampubolon et al., 2005; Darwo et al., 2004). Secara rutin, tanaman rehabilitasi didominasi oleh tanaman kayu-kayuan sebagai tanaman konservasi dan buah-buahan sebagai tanaman produktif. Pengembangan MPTs di DTA Danau Toba dengan jenis alpukat, durian, mangga, duku, kemiri, jengkol, kayu manis dan cengkeh secara umum tidak berhasil karena tanaman MPTs tersebut kurang dipelihara. Penampilan tanaman MPTs yang jelek tersebut juga disebabkan kondisi lahan yang kritis dan sebagai jenis MPTs tersebut tumbuh optimal pada dataran rendah (Darwo, et al., 2004). Sedangkan tanaman bambu sebagai tanaman endemik dan tradisional dengan sifatnya multiguna belum dipertimbangkan padahal potensial sebagai tanaman rehabilitasi lahan kritis. Bambu merupakan jenis cepat tumbuh dan tidak memerlukan syarat tumbuh dan teknik budidaya terlalu rumit. Kriteria ini penting karena akan terjadi penutupan yang cepat pada lahan terbuka untuk mengurangi laju aliran permukaan dan erosi serta kemudahan dalam penanaman dan pemeliharaan tanaman (Aswandi dan Kholibrina, 2012; Harahap dan Aswandi, 2007; Friday et al, 1999). Rumpun bambu juga akan menciptakan iklim…

Pengembangan Bambu untuk Sumber Pendapatan Masyarakat dan Pariwisata di Danau Toba
BERITA DAN ARTIKEL / June 21, 2017

Tanaman bambu bukanlah jenis yang asing bagi masyarakat di sekitar Danau Toba. Hasil hutan bukan kayu ini yang sudah dikenal secara luas baik dari segi budidaya maupun pemanfaatannya di Simalungun, Dairi, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Selatan.  Potensi sumberdaya bambu ini cukup besar, namun pemanfaatannya masih terbatas untuk produk-produk seperti anyaman, keranjang, wadah pembuatan lemang, saluran air dan lainnya. Tanaman bambu ini umum ditanam sebagai pagar perkampungan (huta atau lumban) di Pulau Samosir, Balige, Laguboti, dan Porsea. Jenis yang ditanam adalah bambu duri (Nastus spp.) dalam jarak tanam yang padat sehingga dapat berfungsi sebagai benteng perkampungan. Bambu ini juga dapat dimakan setelah direndam terlebih dahulu. Di Indonesia terdapat 39 jenis bambu yang berasal dari 8 marga (Dransfield dan Wijaya dalam Krisdianto et al., 2000). Diantara keanekaragaman jenis family Graminae tersebut, sekurangnya terdapat 16 jenis bambu yang dimanfaatkan masyarakat di sekitar Danau Toba seperti bambu tali (Gigantoclhoa apus), bambu betung (Dendrocalamus asper), bambu balike (Gigantochloa pruriens), dan lain sebagainya. Bambu semakin luas penggunaannya karena kelebihan-kelebihan yang dimilikinya antara lain batangnya lurus, kuat, mudah dibelah, mudah disayat, mudah dikerjakan dan harganya relatif murah. Namun, bambu juga memiliki kelemahan alamiah akibat zat pati yang cukup tinggi sehingga rentan terhadap organisme perusak seperti jamur, serangga….