Potensi Sotul Sebagai Tanaman Pendukung Rehabilitasi Lahan Kritis Di Dta Danau Toba

September 15, 2017

Gambar 1. Sotul

Penghijauan adalah kegiatan yang terus digalakkan Pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini adalah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kegiatan penghijauan di beberapa tempat di Indonesia ada yang dikatakan cukup sukses dan adanya kurang berhasil. Kegiatan penghijauan seperti di Propinsi Bali adalah salah satu yang berhasil melaksanakan penghijauan. Salah satu faktor penyebab berhasilnya penghijauan di Propinsi Bali adalah adanya pertimbangan aspek religi dalam pelaksanaannya. Penghijaun dengan mempertimbangkan kearifan lokal suatu daerah akan memiliki peluang keberhasilan yang cukup tinggi dibandingkan dengan yang tidak. Pengalaman kegiatan penghijauan di Propinsi Bali dan Sumatera Utara tentu jauh berbeda. Kegiatan penghijauan di Propinsi Sumatera Utara tepatnya dekat dengan Daerah Tujuan Wisata Danau Toba dapat dikatakan masih belum cukup berhasil. Disatu sisi, masyarakat kurang menerima kegiatan penghijauan hal ini dapat dijumpai dengan banyaknya tanaman yang mati akibat ulah manusia.

Rehabilitasi hutan dan lahan di DTA Danau Toba adalah masalah krusial yang harus diatasi mengingat perhatian pemerintah terhadap DTA Danau Toba sangat tinggi. Pemerintah Republik Indonesia dibawah kepemimpinan Bapak Joko Widodo memiliki komitmen yang tinggi untuk pemulihan ekosistem Danau Toba. Bukti komitmen Bapak Joko Widodo terhadap DTA Danau Toba ditandai dengan adanya kegiatan penanaman di empat lokasi, seperti: Hutaginjang Kabupaten Tapanuli Utara, Lokasi Wisata Sipinsur Kabupaten Humbang Hasundutan, Parparean Kabupaten Toba Samosir dan Kebun Raya Samosir di Kabupaten Samosir (Situmorang, 2016). Realisasi kegiatan rehabilitasi lahan kritis dari tahun 2010 s/d 2014 berdasarkan LAKIP BPDAS Asahan Barumun adalah sebesar 118.338,41 Ha (Komarudin, 2016). Penghijauan sebaiknya harus mengikutsertakan aspek sosial untuk melihat seberapa jauh tingkat penerimaan masyarakat terhadap kegiatan tersebut seperti jenis tanaman dan lain-lain. Jenis tanaman yang dipilih sebaiknya yang disukai masyarakat disamping sesuai dengan aspek biofisik tanaman tersebut hidup.

Rehabilitasi lahan merupakan suatu usaha memperbaiki, memulihkan kembali dan meningkatkan kondisi lahan yang rusak agar dapat berfungsi secara optimal baik sebagai unsur produksi, media pengatur tata air maupun sebagai unsur perlindungan alam dan lingkungannya. Pratiwi (2013), menyatakan bahwa upaya rehabilitasi lahan dapat berhasil dengan baik apabila adanya porsi/ukuran yang wajar bagi keterlibatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan dan pengelolaan lahan-lahan terdegradasi dan konservasi tanah dan air. Kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan diselenggarakan melalui kegiatan reboisasi mauapun penghijauan. Adapun tujuan dari rehabilitasi lahan kritis adalah 1) meningkatkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat, 2) meningkatkan produktivitas lahan, 3) meningkatkan kualitas lingkungan menjadi lebih baik, dan 4) terpeliharanya sumber daya genetik. Pemilihan jenis tanaman yang dapat dipilih untuk rehabilitasi lahan memiliki syarat antara lain 1) memiliki akar tunjang yang kuat dan dalam, 2) menyerap air yang sedikit, 3) tidak terlalu membutuhkan banyak unsur hara dan 4) tanaman yang endemik dengan habitatnya atau tanaman serbaguna (Narendra dan Salim, 2002).

Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji tanaman sotul dari aspek sosial dan silvikultur dalam rangka sebagai solusi jenis alternatif dalam rangka penghijauan di DTA Danau Toba. Buah Sotul memiliki nama latin Sandoricum koetjape (Burm.f.) Merr. dan dalam bahasa Indonesia disebut dengan kecapi. Sotul adalah buah terkenal di asia tropis. Beberapa nama sotul dibeberapa negara seperti kecapi, sentul, ketuat (Indonesia), thitto (Burma), sentol (Inggris), faux mangoestan (Prancis), kechapi (Singapura), sentoi dan setia (Malaysia), sau (Vietnam), katul, kantol (Filipina). Pohon Sotul berukuran rindang dan besar dengan diameter 70-90 cm dan tinggi 25 – 30 m. Tanaman ini biasanya tumbuh liar dengan ketinggian kurang dari 1.000 meter diatas permukaan laut. Rincian taksonomi Sotul adalah sebagai berikut :

Divisi               : Spermatophyta

Subdivisi         : Angiospermae

Kelas               : Dicotyledoneae

Suku                : Meliaceae

Famili              : Sandoricum

Spesies : Sandorium koetjape (Burm.f.) Merr.

(Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi, Bogor)

Buah Sotul bentuknya bulat agak pipih, terdiri dari 3 atau 4 biji seperti amandel, dikelilingi seperti busa dan seakan-akan ditaburi tepung. Daging buahnya mengandung cairan berlendir, lunak, berasa asam dan melekat erat pada bijinya. Buah Sotul biasanya pada masyarakat dapat dimakan jika sudah matang. Sotul adalah sebutan nama buah pada masyarakat Batak Toba. Nama lain Sotul pada Suku Sunda adalah kecapi monyet atau kacapi, pada Suku Jawa adalah sentul, Suku Minangkabau adalah santu dan Suku Aceh adalah Pono. Pada negara Nigeria Sotul disebut Santol atau cotton fruit.

Gambar 2. Buah Sotul (Sumber Foto : http://www.allfresh.co.id)

Masyarakat di Desa Pardaeman Sibisa memanfaatkan Sotul sebagai campuran bumbu masakan dan dapat dimakan sebagai buah segar. Dewasa ini pohon Sotul/kecapi dapat diolah buahnya menjadi manisan, jeli, selai dan juga diawetkan atau digunakan sebagai pengharum alami (Siregar, 2016). Penelitian Siregar (2016) tentang manfaat buah Sotul sebagai buah segar dan diolah menjadi campuran bumbu masakan sesuai dengan kebiasaan masyarakat di Desa Pardamean Sibisa. Penelitian Jia Xiang (2014), menyatakan buah Sotul/kecapi mengandung kandungan pektin, kalsium dan fosfor yang tinggi yang bermanfaat untuk kesehatan seperti mencegah berkembangnya sel kanker dan kolesterol. Penelitian Andriyanto (2001) juga menyimpulkan bahwa daging buah Sotul sangat berpotensi sebagai zat anti mikroba alami. Hasil penelitian Silalahi et al., (2015), menyatakan bahwa buah sotul memiliki kadar air 84,56 %, kadar abu 2,57 %, kadar protein 7,59 %, kadar lemak 6,19 %, kadar serat 34,12 % dan kadar vitamin C 7,08 mg/100 gr . Menurut Satuhu (2004), buah yang paling cocok dimanfaatkan untuk diolah menjadi produk pangan sebaiknya mempunyai kandungan karbohidrat lebih besar dari 1%, kandungan protein lebih besar dari 1%, kandungan lemak lebih besar dari 0,1% dan kandungan vitamin C lebih besar 0,01%. Dari hasil analisis tersebut diketahui bahwa buah sotul cocok dimanfaatkan untuk diolah menjadi produk pangan, seperti bahan baku bumbu masakan.

Penelitian Otutu et. al., (2016), menyimpulkan bahwa pada daun dan biji sotul mengandung alkaloid, tannin dan saponin sehingga bermanfaat untuk kesehatan. Daunnya  yang segar jika digosokkan pada kulit dapat berguna sebagai peluruh keringat dan rebusannya dapat digunakan untuk obat demam. Selain itu, kayunya dapat digunakan untuk konstruksi bangunan, kerajinan kayu dan untuk membuat perabotan rumah tangga. Penelitian lainnya juga menyatakan bahwa masyarakat Batak Toba di Desa Pardamean Sibisa, Kabupaten Tobasa memiliki skor indeks kepentingan budaya (Index of Cultural Significance) tertinggi terhadap sotul dibandingkan dengan buah-buah hutan lainnya (Silalahi et al., 2015). Berdasarkan nilai indeks kepentingan budaya dan berbagai manfaat pada sotul maka sotul dapat dikembangkan sebagai tanaman penghijauan di DTA Danau Toba.

Unutuk itu, Sotul dapat dijadikan sebagai alternatif jenis tanaman untuk mendukung rehabilitasi lahan kritis seluas 1.059.467 Ha secara umum di wilayah kerja kantor Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Asahan Barumun dan secara khusus di DTA Danau Toba karena manfaatnya dan secara sosial diminati masyarakat.

Sumber Tulisan dan Foto : Johansen Silalahi, S.Hut dan Sriyanti Barus, S.Hut., M.Si

Telah Terbit di Buletin Alami BPDAS Asahan Barumun 2017

Referensi : Andriyanto, F. 2001. Bayogan., E R V. 2008. Jia Xiang. 2014. Komarudin, H. 2016. Narendra, B.H dan Salim, A.G. 2002. Otutu, E. A., Onwuchekwa, Elendu C., Ekeleme, U.G. 2016. Pancharoen, O., Haboonmee, P. and Taylor, W. C. 2005.Pratiwi. 2003. Satuhu, S. 2004. Silalahi, J., Harianja A.H, Barus, S.P., Situmorang, R.O., dan Maskulino, 2015. Situmorang, A. 2016.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *