Pengembangan Bambu untuk Sumber Pendapatan Masyarakat dan Pariwisata di Danau Toba

June 21, 2017

Tanaman bambu bukanlah jenis yang asing bagi masyarakat di sekitar Danau Toba. Hasil hutan bukan kayu ini yang sudah dikenal secara luas baik dari segi budidaya maupun pemanfaatannya di Simalungun, Dairi, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Selatan.  Potensi sumberdaya bambu ini cukup besar, namun pemanfaatannya masih terbatas untuk produk-produk seperti anyaman, keranjang, wadah pembuatan lemang, saluran air dan lainnya. Tanaman bambu ini umum ditanam sebagai pagar perkampungan (huta atau lumban) di Pulau Samosir, Balige, Laguboti, dan Porsea. Jenis yang ditanam adalah bambu duri (Nastus spp.) dalam jarak tanam yang padat sehingga dapat berfungsi sebagai benteng perkampungan. Bambu ini juga dapat dimakan setelah direndam terlebih dahulu.

Di Indonesia terdapat 39 jenis bambu yang berasal dari 8 marga (Dransfield dan Wijaya dalam Krisdianto et al., 2000). Diantara keanekaragaman jenis family Graminae tersebut, sekurangnya terdapat 16 jenis bambu yang dimanfaatkan masyarakat di sekitar Danau Toba seperti bambu tali (Gigantoclhoa apus), bambu betung (Dendrocalamus asper), bambu balike (Gigantochloa pruriens), dan lain sebagainya.

Bambu semakin luas penggunaannya karena kelebihan-kelebihan yang dimilikinya antara lain batangnya lurus, kuat, mudah dibelah, mudah disayat, mudah dikerjakan dan harganya relatif murah. Namun, bambu juga memiliki kelemahan alamiah akibat zat pati yang cukup tinggi sehingga rentan terhadap organisme perusak seperti jamur, serangga. Dalam kondisi basah, bambu dapat diserang blue stain dan serangga bubuk basah.  Bambu kering juga dapat diserang rayap tanah, bubuk dan rayap kayu kering (Pasaribu et al., 2006). Sehingga dibutuhkan perlakuan khusus dalam pengawetannya sebelum bambu digunakan.

Kerajinan dan Mata Pencaharian

Bambu memiliki banyak manfaat baik bagi lingkungan maupun sebagai sumber pendapatan masyarakat. Di Kabupaten Simalungun, tanaman bambu tersebar di Kecamatan Panei Tongah, Dolok Panribuan, Haranggaol Horison, Purba, Silimakuta dan Raya. Walaupun ada yang tumbuh alami, sebagian besar bambu di kawasan ini sengaja ditanam oleh petani di pekarangan, pinggiran kebun maupun di sekitar hutan. Terdapat empat jenis bambu yang banyak diolah oleh masyarakat, yakni bambu tali (Gigantochloa apus), Bambu betung (Dendrocalamus asper), bambu ampel, dan Bambu balike (Gigantochloa pruriens).

Bambu tali atau juga dikenal dengan sebutan bambu apus paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat di Panei Tongah, Purba, Silimakuta dan Raya sebagai bahan baku anyaman keranjang untuk wadah sayur-sayuran (tomat, terong) dan buah (jeruk). Usaha pembuatan keranjang di wilayah ini telah ada sejak tahun 1970an salah satunya terdapat di Desa Sirpang Sigodang Kecamatan Panei Tongah dengan 85 persen penduduk bekerja sebagai pengrajin. Dalam sehari setiap pengrajin rata-rata menghasilkan 20 keranjang berukuran 60 kg dengan upah Rp 5.000/keranjang. Pemanfaatan bambu tali untuk bahan baku anyaman gedek (dinding bambu pengganti papan) masih terbatas di wilayah ini dan belum sebanyak pemanfaatannya sebagaimana di Kabupaten Langkat.

Kerajinan dari Bambu

Selain bambu tali, bambu betung juga banyak dimanfaatkan. Bambu betung amat kuat, jarak ruas pendek, dindingnya tebal, sehingga tidak begitu lentur. Batang bambu banyak digunakan untuk konstruksi bangunan, pagar rumah, dan tangga. Tunas muda bambu betung yang dikenal sebagai rebung merupakan sumber bahan makanan. Bambu ini memiliki nilai jual Rp 8.500,00 per batang dengan panjang 8 meter di tingkat desa; dan hampir dua kali lipat apabila dijual ke kota, yaitu Rp15.000,00 per batang dengan panjang yang sama. Selain untuk anyaman dan konstruksi, bambu juga banyak diperdagangkan masyarakat untuk galah atau tiang dari jenis bamboo balike (Gigantochloa pruriens). Bambu galah ini dijual Rp5.000/batang di Desa Marihat Raja, Dolok Pangaribuan Kabupaten Simalungun.

Selain produk batang bambu, hutan bambu juga menghasilkan produk rebung. Dalam satu tahun dapat dihasilkan 10-20 tunas tiap rumpun, sehingga apabila dalam 1 hektar terdapat 30 rumpun, maka dapat dihasilkan 3.000-6.000 rebung. Apabila setiap rebung dihargai Rp 2.500/buah maka akan diperoleh pendapatan tambahan Rp 7.500-15.000.000, suatu jumlah yang signifikan bagi peningkatan kesejahteraan petani.

Pengembangan Pariwisata

Suasana hutan bambu yang asri dan sejuk dengan aneka ragam pangan dari rebung bambu menjadi pilihan wisata menarik di sekitar Danau Toba. Beberapa pengelolaan hutan bambu untuk pariwisata telah berkembang diantaranya Wisata Hutan Bambu di Sumbermujur Lumajang Jawa Timur dan Dusun Bambu Bandung, Lembang Jawa Barat.

Bambu

Hutan bambu yang masih alami yang berdampingan dengan lahan pertanian berbagai tanaman hortikultura seperti cabe, kol, tomat, jeruk dan kopi di DTA Danau Toba menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan, khususnya bagi warga kota yang mengidamkan sebuah lingkungan yang natural tanpa polusi dengan suasana pertanian yang kental. Arsitektur batang dan rumpun bambu yang indah dengan warna batang yang beranekaragam merupakan atraksi tersendiri. Memasuki hutan bambu ini bak menyeruak sebuah terowongan raksasa memberikan sensasi tersendiri bagi para wisatawan. Penanaman berbagai jenis bambu baik jenis endemic maupun koleksi tanaman dari luar negeri dapat dijadikan obyek wisata pendidikan bagi para pelajar dan aktivis academica.

Pengembangan kerajinan anyaman bambu untuk souvenir dengan corak dan motif khas Batak yang menarik serta pembuatan alat musik dari bambu seperti seruling Batak dapat menjadi alternatif diversivikasi produk dan peningkatan pendapatan masyarakat.  Pemanfaatan bambu untuk dekorasi bangunan dan infrastruktur diharapkan dapat meningkatkan daya tarik Danau Toba sebagai destinasi pariwisata dunia sebagaimana halnya di Bali dan Bandung. Dalam kehidupan sosial budaya masyarakat bambu menjadi salah satu kelengkapan yang tidak bisa ditinggalkan, misalnya dalam upacara adat, upacara perkawinan, hajatan keluarga bahkan bahan baku bambu menjadi alat musik khas komunitas tertentu, termasuk suku Batak. Bahkan, perkembangan sosial budaya masyarakat ditandai dengan perkembangannya aksesori bambu dalam pembuatan perabot rumah tangga dan cindera mata yang bernilai seni tinggi. Hal ini tentu saja sangat mendukung pengembangan pariwisata Danau Toba.

 

Kontributor Naskah dan Foto: Aswandi dan Hiras Sidabutar

Referensi:  

Krisdianto et al., (2000) dan Pasaribu et al., (2006).

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *