Pendidikan Lingkungan Di Usia Sekolah Dalam Rangka Mendukung Global Geopark Kaldera Toba

June 19, 2017

Danau Toba

Pendidikan lingkungan kawasan Danau Toba dengan menerapkan berbagai pendekatan hendaknya dilakukan sedini mungkin seperti misalnya pada anak-anak usia sekolah. Hal ini diperlukan kerena mereka adalah generasi penerus yang akan mengelola kawasan Danau Toba. Pendidikan lingkungan adalah pendidikan untuk menumbuhkan sikap baru terhadap komponen bumi seperti air, udara, hewan dan tumbuhan. Banyak aspek yang terintegrasi dalam pendidikan lingkungan hidup, di mana anak diajak belajar dengan alam sebagai sumber sekaligus media belajarnya.

Pendidikan lingkungan di lingkup sekolah bukanlah hal yang baru tetapi mengalami sejarah yang panjang sejak abad ke 19 diawali dengan buku pelajaran tentang alam. Setelah buku tersebut banyak kegiatan yang dilakukan dengan kegiatan outdoor dengan maksud agar mampu memahami alam dengan memberi pengalaman langsung dan belajar langsung di luar kelas. Pada tahun 1920-an, pendidikan konservasi di Amerika difokuskan untuk membantu generasi muda dan semua orang dewasa memahami karakteristika, sebaran, status, penggunaan, masalah-masalah, dan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan sumber daya alam. Pendidikan konservasi mulai diterapkan di Indonesia yang saat itu diberi nama Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (Adisendjaja, 2007).

Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) juga ditegaskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2015 dan merupakan salah satu prioritas pembangunan nasional (Puskurbuk, 2011). Pengembangannya dilaksanakan dengan pembentukan karakter melalui program operasional satuan pendidikan. Berbagai faktor lainnya yang berpengaruh dalam implementasi PLH di sekolah, yaitu kepala sekolah dan guru, sarana-prasarana pendukung, serta kemitraan sekolah dengan masyarakat dan institusi lainnya.

Menurut Sudarwati (2012) dampak pendidikan lingkungan hidup belum banyak dirasakan bagi lingkungan. Terbukti dari observasi sementara masih banyak ditemui siswa/lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang membuang sampah tidak sesuai tempatnya baik di sekolah atau di jalanan, merokok di luar sekolah, meludah, dan kegiatan merusak lingkungan seperti corat coret di tembok. Hendarwati (2013) menyebutkan kurang berhasilnya penumbuhan karakter dan moral siswa pada pemahaman lingkungan karena metode yang masih belum tepat. Proses pembelajaran belum memberdayakan seluruh potensi siswa secara optimal. Pembelajaran dilakukan dengan ceramah dan siswa mengerjakan soal-soal lembar kerja siswa (LKS) tanpa memahami konsep secara mendalam. Hal ini menyebabkan siswa kurang terlatih untuk menemukan, mengembangkan sendiri fakta dan konsep dari materi pelajaran dan mengaplikasikan konsep-konsep yang telah dipelajari dalam kehidupan nyata sehingga kemampuan berpikir kritis siswa kurang dapat berkembang dengan baik.

Dalam pendidikan konservasi lingkungan di kawasan Danau Toba juga pernah dilaksanakan oleh Balai Penelitian Kehutanan Aek Nauli berkerja sama dengan ITTO pada tahun 2009-2010 dengan tujuan untuk melakukan pemulihan fungsi ekosistem kawasan DTA Danau Toba melalui pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kapasitas lokal dalam rehabilitasi hutan dan lahan. Dalam kegiatan tersebut, aktivitas pendidikan lingkungan yang dilaksanakan adalah kempanye pelestarian Danau Toba yang dilakukan di berbagai tingkatan sekolah (SD, SLTP, dan SLTA) yang ada di sekitar Danau Toba melalui kegiatan seminar, diskusi terfokus, pemutaran film, perlombaan pembuatan poster, lomba cipta puisi, menggambar lingkungan hidup, fotografi, dan kegiatan praktek lapangan berupa pengamatan lingkungan, pengolahan limbah, pemungutan sampah, dan penamanan pohon. Tentunya masih banyak kegiatan pendidikan lingkungan yang dilaksanakan oleh lembaga lain, namun frekuensinya diyakini masih sangat rendah. Untuk itu, kegiatan serupa sangat diperlukan saat ini dalam rangka menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak usia dini untuk mendukung partisipasi masyarakat dalam penetapan Danau Toba sebagai salah satu jaringan geopark dunia.

 

Kontributor Naskah : Rospita Odorlina P. Situmorang, STP. M.Eng.

Kontributor Foto: WM

 

Referensi:

Adisendjaja (2007), Hendarwati (2013), Puskurbuk (2011), Sudarwati (2012).

Sumber Pernah di Terbitkan di: Buletin Alami,Edisi I/2016 BP DAS Asahan Barumun

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *