Model IAAS (Integrated Agroforestry Apiculture System) untuk Pemulihan Ekosistem dan Kesejahteraan Masyarakat di Danau Toba

May 31, 2017

Danau Toba

Model IAAS dalam prakteknya digambarkan sebagai penggabungan antara sistem agroforestry dengan budidaya lebah madu Apis dan Trigona untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan dan penggalian alternatif mata pencaharian masyarakat. Dalam pelaksanaannya, model IAAS ini memerlukan serangkaian kegiatan berupa penyiapan kelompok tani, pengelolaan produksi, dan pengelolaan pemasaran.

Penyiapan kelompok tani dimulai dengan mengidentifikasi lokasi-lokasi dan kelompok tani yang potensial bagi pengembangan budidaya lebah madu. Perencanaan kegiatan dilakukan secara partisipatif dengan memperhatikan isu-isu gender dan kearifan lokal. Pelatihan teknik budidaya lebah madu dilakukan langsung di lapangan. Pendampingan terhadap kegiatan ini harus tetap dilakukan sehingga program ini dapat diterima dan berhasil dengan baik oleh petani.

Dalam penyiapan bibit tanaman untuk pola agroforestry, hendaknya mempertimbangkan aspek pemenuhan kebutuhan pakan lebah. Oleh karena itu, jenis-jenis pohon yang ditanam haruslah memiliki karakter pembungaan yang lebat dan frekuensi tinggi sehingga kebutuhan akan pakan lebah dapat terpenuhi dengan baik. Disamping itu, jenis tumbuhan yang disukai lebah madu, baik Apis maupun Trigona pada umumnya mempunyai karakter bunga yang polennya tampak jelas atau mempunyai filamen yang panjang. Kaliandra, Makadamia, dan Kopi memiliki karakter bunga yang sesuai, disamping itu jenis-jenis ini juga sudah umum dibudidayakan di DTA Danau Toba. Sedangkan tanaman Kemenyan dan Tusam (Pinus) merupakan tanaman penghasil resin yang dapat dimanfaatkan oleh Trigona untuk menghasilkan propolis.

Pemilihan tanaman tepi dapat disesuaikan dengan kondisi yang ada. Selain Kemenyan dan Ingul juga dapat dipilih jenis lain seperti Kemiri, Mangga, Pirdot maupun Alpukat. Kemiri dan Mangga merupakan tanaman yang sudah banyak dibudidayakan di sekitar DTA Danau Toba, khususnya di tepi danau, sedangkan Pirdot (Saurauia brecteosa DC) yang berbunga sepanjang tahun, selain berfungsi sebagai sumber pakan bagi lebah Apis juga dapat menjadi bahan obat bagi masyarakat khususnya etnis Batak Toba dan Karo. Untuk memperoleh panen musiman di antara blok tanaman kopi disediakan bagi budidaya sayur mayur seperti cabe, tomat, kol dan lainnya. Selanjutnya pada keempat sisi lahan diletakkan stup lebah Apis dan Trigona.

Ilustrasi Pola Tanaman Model IAAS

Permasalahan degradasi lahan di Daerah Tangkapan Air Danau Toba bersifat multidimensi sehingga upaya pemulihannya memerlukan pendekatan secara integratif dan menyeluruh. Pemulihan ekosistem DTA Danau Toba memerlukan penegasan kembali pentingnya perencanaan strategis yang melibatkan peran aktif masyarakat. Disamping itu, peningkatan produktivitas lahan yang dapat mengembangkan sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat juga perlu diidentifikasi. Pengembangan model IAAS melalui penggabungan antara budidaya lebah madu (Apis) dan penghasil propolis (Trigona) pada sistem agroforestry Kemenyan-Kopi-Kaliandra dapat memberikan peluang bagi sumber alternatif mata pencaharian masyarakat dan peningkatan produktivitas tanaman. Hal ini diharapkan dapat mendorong skema-skema pengelolaan HHBK dalam pengembangan alternatif sumber pendapatan masyarakat yang mendukung kelestarian sumberdaya hutan dan lingkungan. Memperhatikan multifungsi manfaatnya, sistem IAAS memiliki potensi bagi pengaturan ekologi, sumber ekonomi dan pengembangan sosial masyarakat, oleh karena itu sebaiknya sistem ini dijadikan bagian yang tidak terpisahkan dari program pembangunan pedesaaan dan daerah tertinggal.

 

Kontributor Naskah: Aswandi, Aam Hasanuddin, Ahmad Dany Sunandar, Cut Rizlani Kholibrina, Asep Sukmana, Maskulino, Alfonsus H. Harianja, Arida Susilowati dan Apri Heri Iswanto

Link Terkait :http://aeknauli.org/pengembangan-model-iaas-di-dta-danau-toba/

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *