Mendukung Pembangunan Danau Toba dengan Gerakan Reboisasi

July 20, 2017

Sumberdaya  hutan dan lahan memberikan manfaat  yang tak ternilai bagi kehidupan umat, oleh karena itu keberadaan sumberdaya hutan wajib disyukuri, diurus, dan dimanfaatkan secara optimal. Kelestarian Hutan dan Lahan juga wajib dijaga baik fungsi dan kualitas Sumber Daya Hutan agar tetap memberikan manfaat secara optimal sebagai system penyangga kehidupan dan sumber kemakmuran rakyat.  Laju deforestasi atau pengurangan luas kawasan hutan dan degradasi atau Penurunan kualitas hutan pada masa sekarang ini telah mencapai tahap yang  mengkhawatirkan. Hal ini tentu saja akan mengurangi fungsi/daya guna hutan yang akan berimplikasi pada terganggunya siklus alam dan kehidupan manusia yang akan menimbulkan dampak negatif seperti banjir, kekeringan, dan tanah longsor, sehingga peranannya sebagai penyangga kehidupan kurang optimal.

Kondisi kawasan hutan di Kabupaten Karo saat ini banyak mengalami gangguan akibat penggarapan liar yang dilakukan masyarakat, perambah hutan, kebakaran hutan, pencurian humus dan penggunaan lahan lainnya. Dampak kerusakan kawasan hutan Kabupaten Karo tidak hanya dirasakan masyarakat Karo sendiri, namun daerah tetangga juga merasakan akibatnya seperti Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Langkat yang sungainya berhulu di Kabupaten Karo. Untuk menanggulangi hal tersebut, perlu dilakukan upaya pemulihan dan upaya peningkatan kemampuan fungsi hutan, khususnya di kawasan hutan lindung, hutan produksi dan hutan konservasi dengan suatu gerakan Reboisasi atau upaya penanaman jenis pohon hutan pada kawasan hutan rusak yang berupa lahan kosong/terbuka, alang-alang dan semak belukar.

Pemerintah telah dan terus melakukan upaya pemulihan dan peningkatan kemampuan fungsi  dan produktifitas hutan, salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Karo  adalah dengan melakukan Gerakan Reboisasi. Kegiatan ini dimulai dengan menyusun buku Rancangan Tanaman Reboisasi di lingkup wilayah pengolaan DAS DTA Danau Toba tahun 2016 di Kabupaten Karo. Lokasi kegiatan Reboisasi terletak dikawan hutan Sipisopiso Reg. 10/K, UPTD Merek, Desa Situnggaling, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo DAS DTA Danau Toba dengan luas kawasan reboisasi 20 Ha.

Kegiatan ini dilaksanakan dengan memperhatikan jenis tanah, keadaan iklim dan curah hujan, penggunaan lahan dan vegetasi, topografi serta aksesibilitas, sarana dan prasarana. Rencana kegiatan reboisasi ini dimulai dengan pengumpulan data, penataan areal penanaman, persiapan sarana dan prasarana, penataan areal tanaman, persiapan kebutuhan dan jenis bibit, pengangkutan bibit, penanaman, rencana pemeliharaan, dan perlindungan tanaman.

Dalam Pengumpulan data, data yang dikumpulkan adalah data sosek dan biofisik yang terdiri dari data primer yaitu data kondisi lingkungan, masyarakat desa setempat, mata pencaharian penduduk, keadaan tenaga kerja, serta data sarana dan prasarana. Data biofisik  diambil langsung dari lapangan seperti pengukuran batas lokasi dengan menggunakan alat GPS, juga didapat data ketinggian tempat, kemiringan lapangan dan pengambilan data tanah, penataan areal batas petak tanaman, jalan pemeriksaan, orientasi, dan lain-lain. Hasil analisa data dituangkan dalam buku rancangan teknis yang dibuat oleh Tim Penyusun Rancangan.

Setelah lokasi kegiatan ditetapkan maka ada beberapa tahapan teknis yang harus diperhatikan dan dilakukan. Penataan areal tanaman meliputi pembuatan batas areal, pengukuran kelerengan lahan, pembuatan peta yang sesuai dengan kaidah perpetaan, pemasangan patok batas, penataan pola tanaman, analisis data hasil survey data dan informasi dengan dilakukannya tabulasi, sortasi, dan validasi.

Pola Tanam Samping dan Pola Tanam Atas

Sarana dan prasarana diadakan dengan maksud untuk membantu kelancaraan pelaksanaan kegiatan reboisasi. Kegiatan sarana dan prasarana antara lain meliputi pengadaan peralatan perlengkapan peralatan kerja, pengadaan ajir tanaman, pembuatan jalan pemeriksaan serta pengadaan pupuk dan obat-obatan.

Setelah lokasi kegiatan diterapkan sesuai dengan rancangan maka ada beberapa tahapan teknis yang harus diperhatikan dan dilakukan oleh Pelaksana Lapangan. Penataan areal tanaman meliputi penentuan jalur tanaman, pembuatan dan pembersihan jalur tanaman, pembuatan lobang tanaman.

Pengadaan bibit tanaman untuk reboisasi dilakukan melalui pengadaan bibit siap tanam. Sebelum bibit ditanam  harus dikondisikan terlebih dahulu disekitar lokasi tanaman dengan maksud untuk penyesuaian. Jenis bibit penanaman sekaligus penyulaman berupa:  pinus dan ekaliptus. Total bibit yang akan ditanam adalah 32.000 bibit sedangkan bibit yang akan di sulam sebanyak 3.200 bibit. Pengangkutan bibit dikerjakan setelah pemasangan ajir dan pembuatan lubang tanaman selesai dikerjakan. Setelah ditentukan jumlah bibit  yang  dapat  ditanam kemudian  disiapkan untuk diangkut ke lubang tanam.

Lobang Tanam

Bentuk kegiatan reboisasi disesuaikan dengan kondisi lahan. Sebelum dilakukan penanaman, lahan harus dibersihkan dengan pemotongan semak dan penyemprotan alang-alang dengan mengikuti jalur tanam menurut pola tanam garis kontur selebar satu meter dengan jarak tanam disesuaikan kondisi lapangan.

Kegiatan Pemeliharaan Tanaman Tahun Berjalan merupakan kegiatan satu paket dalam kegiatan reboisasi yang tidak terpisahkan. Kegiatan Pemeliharaan Tanaman Tahun Berjalan ini minimal dilaksanakan 1 bulan setelah dilaksanakan penanaman, kegiatan selanjutnya dalam pemeliharaan  tanaman tahun berjalan ini meliputi penyiangan, pendangiran tanaman, penyulaman tanaman yang mati serta pemupukan tanaman. Perlindungan dan pengamanan tanaman meliputi kegiatan pemberantasan hama dan penyakit serta pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran.

Sumber: Dinas Kehutanan Kab. Karo

Artikel Terkait:

Hutan Rakyat untuk Mendukung Pembangunan Danau Toba

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *