Makadamia untuk Danau Toba

October 2, 2017

Pemulihan  ekosistem Danau Toba saat ini menjadi prioritas utama berbagai instansi terkait untuk menjadikan Danau Toba sebagi Distinasi Pariwisata Nasional. Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli merupakan bagian dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan lingkup Inovasi, Penelitian dan Pengembangan juga ikut berpartisipasi dalam pemulihan Ekosistem Danau Toba.

BP2LHK Aek Nauli memiliki Kebun Percobaan Sipiso-piso seluas 45 ha yang berada di Desa Negeri Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, DAS DTA Danau Toba Provinsi Sumatera Utara. Kawasan Hutan Gunung Sipiso-piso ini berstatus sebagai hutan lindung rawan terhadap kebakaran. Hal ini disebabkan vegetasi dominan di dalam kawasan tersebut adalah alang-alang disamping areal berhutan pada puncak dan punggung gunung. Kebun Percobaan Sipisopiso ini dijadikan BP2LHK Aek Nauli menjadi sumber benih dari hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan. Saat ini BP2LHK Aek Nauli telah mengembangkan Macadamia integrifolia di Kawasan KP Sipisopiso, jenis makadamia yang dapat dijadikan sekat bakar dan buahnya dapat dikomsumsi kalangan masyarakat.

Rabu, 27/09/2017 BP2LHK Aek Nauli mengadakan kunjungan lapangan sekaligus melakukan diskusi lapangan di KP Sipisopiso terkait Macadamia integrifolia untuk Pemulihan Danau Toba. Diskusi lapangan ini  diikuti oleh Kepala Balai Pratiara, S.Hut., M.Si, Kepala Seksi DIK Ismed Syahbani, S.Hut, dan 3 orang peneliti dari BP2LHK Aek Nauli (Dr. Aswandi, Dr. Ahmad Dany Sunandar dan Cut Rizlani Kholibrina, S.Hut, M.Si).

Aswandi menjelaskan bahwa jenis makadamia yang dikembangkan BP2LHK Aek Nauli ini adalah jenis yang dapat beradaptasi dengan kondisi berbatu, solum yang tipis, dan alang-alang. Tanaman ini sangat cocok untuk alternatif tanaman pemulihan ekosistem Danua Toba dan sebagai penambahan pendapatan masyarakat di sekitar Danau Toba.

Dalam kesempatan ini Pratiara menyampaikan bahwa prospek makadamia kedepannya akan sangat menjanjikan. Perluasan makadamia diharapkan menjadi alternatif pemulihan Ekosistem Danau Toba Kedepannya dan kegiatan penanaman makadamia bertujuan agar ketersedian bibit makadamia bisa terpenuhi kedepannya.

“Kita sudah temukan teknologi dan inovasi untuk Rehabilitasi Hutan dan Lahan Ekosistem Danau Toba, harapannya pihak-pihak yang berkepentingan seperti BP DAS Asahan Barumun, Badan Otorita Danu Toba, Pemerintah Provinsi, Kabupaten, Perusahaan dapat menjalin kerjasama agar pemulihan Danau Toba dapat diatasi dengan mudah”, Tambah Pratiara.

Selain itu, pada diskusi lapangan kali ini, Pratiara juga menyampaikan kendala dalam pengembangan Makadamia ini adalah supporting anggaran yang terbatas. Beliau berharap agar tahun 2019 dapat di siapkan secara bertahap, baik dari segi manajemen dan penyebaran informasi terkait Makadamia untuk Pemulihan Ekosistem Danu Toba.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *