GERAKAN SADAR WISATA MENDUKUNG DANAU TOBA

July 28, 2017

Pariwisata diyakini Pemerintah Indonesia masih tetap menjadi unggulan dan tumpuan bagi Indonesia. Keadaan masa krisis yang melanda negeri ini di masa lalu, sektor pariwisata diyakini para pakar dan praktisi mampu menjadi pioner pemulihan perekonomian Indonesia (Sugiantoro R, 2000). Peningkatan nilai ekonomi pada sektor pariwisata lebih prospektif dibandingkan  sektor pertambangan jika dikelola dengan baik karena sektor pertambangan menyisakan kerusakan lingkungan jika dikelola dengan baik (Kasali, 2008). Peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik pada suatu daerah obyek wisata akan memberikan efek domino bagi perekonomian daerah wisata tersebut bahkan negara kita. Gerakan sadar wisata adalah sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik. Gerakan sadar wisata dan menjadikan Sapta Pesona menjadi life style (gaya hidup) adalah salah satu solusi yang harus terus dikumandangkan kemana-mana untuk menarik minat wisatawan mancanegara dan domestik, seperti: Danau Toba.

Danau Toba sebagai destinasi prioritas terletak di deretan Pegunungan Bukit Barisan dan menjadi salah satu daya tarik utama pariwisata di Sumatera Utara (Setiawan T, 2011). Kawasan Danau Toba berada di Provinsi Sumatera Utara secara administratif. Kawasan ini mencakup bagian dari wilayah administrasi dari 8 (delapan) kabupaten yaitu Kabupaten Samosir, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Dairi, Kabupaten Karo, Kabupaten Humbang Hansudutan, Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Simalungun dan Kabupaten Pakpak Bharat (Kementerian Pekerja Umum, 2016).

Danau Toba merupakan sebuah keajaiban alam yang sungguh mempesona yang membentang sepanjang 100 km dengan lebar 30 km di atas pegunungan Bukit Barisan. Letaknya yang berada pada ketinggian 900 meter di atas permukaan laut (dpl) dan dikelilingi oleh kawasan hutan yang hijau menjadikan udara di sekitarnya sejuk dan menyegarkan. Dinas Pariwisata Sumatera Utara menyebutkan bahwa Danau Toba yang memiliki luas 1.145 km2 dengan kedalaman 450 meter yang terlihat seperti lautan, merupakan danau vulkanik terbesar dan terdalam di dunia. Danau ini diperkirakan terbentuk dari letusan supervolcano Gunung Toba yang terjadi sekitar 75.000 tahun yang lalu. Danau yang menjadi salah satu ikon wisata Provinsi Sumatera Utara ini, merupakan sebuah tujuan wisata yang menarik dan menantang untuk dikunjungi (Pemprov Sumut, 2014).

Danau terluas di Indonesia ini menyajikan pemandangan indah yang menarik perhatian wisatawan bahkan ingin mengeksplorasinya lebih jauh. Dewasa ini, Pemerintah Republik Indonesia sedang giat-giatnya melakukan pengembangan wisata. Menteri Pariwisata Arif Yahya menyatakan Danau Toba merupakan salah satu dari ‎10 destinasi wisata prioritas, seperti Borobudur, Mandalika, Labuhan Bajo, Bromo-Tengger-Semeru, Kepulauan Seribu, Toba, Wakatobi, Tanjung Lesung, Morotai  dan Tanjung Kelayang, (MP/Flo, 2016). Pengembangan yang dilakukan pemerintah salah satunya adalah diadakannya Karnaval Kemerdekaan Danau Toba setiap tahun.

Pada tanggal 20 s/d 21 Agustus 2016, pertama kalinya dilaksanakan Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba di Parapat (Simalungun) dan Balige (Tobasa) yang dihadiri oleh Bapak Presiden Ir. Joko Widodo dan Ibu Iriana berserta Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Menko Maritim Luhut Panjaitan.  Kegiatan dalam rangka memperkenalkan Danau Toba ini dimulai dengan konser musik dengan panggung di atas danau pada Pantai Bebas, Parapat. Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba selanjutnya diadakan di Balige (Kab.Tobasa) dengan menampilkan beragam budaya batak (karnaval budaya), pertunjukan mobil hias, pesona tari yang juga di ikuti kurang lebih 20 provinsi yang terdapat di Indonesia. Dalam pidatonya tanggal 21 Agustus di Balige, Presiden Ir. Joko Widodo mengatakan Pesona Danau Toba harus dilanjutkan tiap tahunnya. Perbedaan-perbedaan budaya yang ditampilkan pada acara Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba, seperti: Batak Mandailing, Karo, Toba, Simalungun, Angkola dan Pakpak membuat kita bersatu dan nilai tambah dalam pengembangan Danau Toba.

Pengembangan Wisata Danau Toba dalam skala global harus didukung oleh masyarakat. Berbagai tantangan yang sering sekali kita temukan dalam proses pengembangan Danau Toba seperti pengembangan kegiatan pariwisata yang masih fokus pada aspek fisiknya saja, seperti pengembangan karena potensi alamnnya, belum melihatkan potensi kebudayaan yang dimiliki daerah tersebut, keterbatasan dukungan sarana dan prasarana penunjang. Jika dibandingkan dengan Bali, Bali merupakan salah satu tempat wisata yang telah lama populer di Indonesia bahkan kepenjuru dunia dan sampai sekarang masih tetap eksis menjadi tempat wisata andalan Indonesia. Hal ini disebabkan karena banyak sekali keunggulan-keunggulan yang dipamerkan membuat setiap wisatawan yang berkunjung terkesan.

Somantri salah satu Dosen UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) menyatakan keunggulan-keunggulan seperti potensi alam yang terdapat di Bali menawarkan sea, sand, dan sun, memperlihatkan objek budaya dimana kehidupan bali sangat erat dengan Agama Hindunya. Memamerkan pura sebagai tempat ibadah, ukiran kuno, tarian  dan lainnya membuat wisatawan tertarik untuk berkunjung. Selain objek-objek wisata yang ditawarkan, faktor penting dalam kegiatan pariwisata yang disediakan di Bali adalah sarana dan prasarana. Sehingga banyak sekali wisatawan yang merasa nyaman untuk berkunjung ke Bali. Selain itu tantangan yang sering muncul pada pengembangan kawasan wisata, masyarakat yang berada dalam kawasan wisata masih belum ikut “memiliki”, manfaat yang dihasilkan dan belum adanya keterlibatan sebagian masyarakat  yang berada dikawasan wisata.

Danau Toba telah memiliki potensi alam yang sangat indah dan budaya yang sangat beragam, tinggal bagaimana para aktivis baik pemerintah dan masyarakat berpartisipasi dalam memperkenalkan dan mengembangkan potensi yang telah ada di kawasan Danau Toba itu sendiri. Dalam mendukung kegiatan pengembangan Danau Toba, pertama sekali yang dapat dilakukan adalah menumbuhkan gerakan sadar wisata atau sapta pesona yang merupakan elemen dasar pembangunan pariwisata. Percepatan pembangunan Danau Toba dapat didorong dengan upaya-upaya pemberdayaan masyarakat di bidang pariwisata, khususnya untuk meningkatkan kepedulian, dukungan dan partisipasi masyarakat. Salah satunya adalah kampanye Sadar Wisata dan penguatan nilai-nilai Sapta Pesona (Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah, dan Kenangan) di kalangan masyarakat dan dilakukannya kegiatan pendampingan mayarakat lewat sosialisai, edukasi dan pelestarian.

Pelatihan-pelatian berupa pelatihan Bahasa Inggris, dimana masyarakat harus siap menyambut tamu-tamu manca negara, peningkatan kualitas souvenir, baju, peningkatan oleh-oleh khas daerah, dan lain sebagainya. Pelestraian budaya batak yang beragam, tradisi tradisional yang dipertahankan untuk memperkenalkan pada wisatawan karena wisatawan umumnya butuh sesuatu yang outentik dan unik. Meningkatkan keadaan Danau Toba dan daerah-daerah disekitarnya tetap bersih dan aman. Serta konsep menanggalkan “anak ni raja” dan “boru ni raja” dalam budaya batak dalam pelayanan yang baik bagi wisatawan yang berkunjung. Orang Batak bisa dikatakan anak ni raja (anak raja) dan bukan anak ni raja na parajarajahon (anak raja yang berlagak seperti raja) atau na pajololohon (terlalu maju). Identitas kita sebagai anak raja mengandung makna kesetaraan, kesejajaran yang saling menghormati, saling mengasihi dan menghargai. Kedepannya, konsep “anak ni raja” tercitra menjadi anak ni raja yang jadi suri teladan bagi pengungjung wisatawan Danau Toba dengan merubah perilaku menjadi ramah, sopan, santun, mudah dan murah senyum (Subarudi, 2009).

Pratisipasi pemerintah juga diperlukan dalam menyediakan tenaga ahli/pengajar dalam pelatihan-pelatihan masyarakat daerah. Selain itu, peran pemerintah dalam percepatan pembangungan sarana dan prasarana seperti akses menuju kawasan Danau Toba (jalan dan bandara), perbanyakan hotel (penginapan lainnya) dan kegiatan-kegiatan pameran budaya lokal. Partispiasi Pemerintah yang komit ternyata meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan asing. Komitmen bukan hanya mencakup urusan promosi wisata, tetapi juga berkaitan dengan urusan otoritas bandara, penerbangan, jalan tol, pemukiman yang dilewati wisatawan, birokrasi yang sigap, otoritas bandara, pekerja yang santun dan berkualitas, imigrasi, keamanan, tata krama, lingkungan hidup, industri, pendidikan, kaum adat dan sebagainya (Kasali, 2008).

Pengembangan Danau Toba yang telah disemarakkan mengharapkan komitmen pemerintah dan masyarakat ikut serta dalam pengenalan Danau Toba kepenjuru dunia dengan dunia sosial yang telah berkembang saat ini. Diharapkan juga dilakukan kegiatan sadar wisata dan sapta pesona guna secara efektif meningkatkan kesadaran dan peran aktif masyarakat dalam menciptakan tumbuh dan berkembangnya kegiatan kepariwisataan di kawasan Danau Toba, serta menjadi sebuah budaya dan harus menjadi gaya hidup khususnya di masyarakat disekitar Danau Toba. Semoga Danau Toba dan ekosistemnya menjadi salah satu wisata kebanggaan Negara Indonesia yang selalu eksis di dalam negeri hingga kepenjuru dunia.

Artikel dan Foto: Johansen Silalahi, S.Hut dan Donna C Pandiangan S.Hut

Telah Terbit di Buletin Alami BPDAS Asahan Barumun Tahun 2016

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *