DANAU TOBA MENUJU JARINGAN GEOPARK DUNIA

June 13, 2017

Danau Toba

Danau Toba yang dikenal sebagai daerah tangkapan air (cathment area) memiliki keunggulan tersendiri karena di tengah kawasan terdapat sebuah danau yang luas, yang memiliki keindahan luar biasa. Danau Toba merupakan danau tektonik terluas di dunia. Di dalam kawasan terdapat berbagai aktifitas manusia yang sebagian besar memanfaatkan keberadaan Danau Toba sebagai sumber mata pencaharian dan sekaligus melahirkan berbagai kebudayaan yang berkaitan erat dengan Danau Toba.  Dengan letak geografis, fungsi, dan potensi yang ada, secara umum keberadaan kawasan Danau Toba digolongkan dalam 2 jenis peran strategis, yaitu sebagai kawasan lindung tangkapan air yang menopang wilayah-wilayah di bawahnya, serta sebagai kawasan ekonomis budidaya.

Dalam rangka mengangkat potensi kawasan Danau Toba, pemerintah telah menetapkan Danau Toba sebagai salah satu geopark nasional yang ditetapkan pada tanggal 7 Oktober 2014 dan sedang diusulkan masuk kedalam jaringan geopark dunia tahun 2015. Geopark, disebut juga taman bumi, merupakan kawasan lindung nasional yang berisi sejumlah situs warisan geologi penting, langka atau mengandung unsur estetika. Situs warisan bumi ini merupakan bagian dari konsep terpadu perlindungan, pendidikan, dan pembangunan yang berkelanjutan (Unesco, 2006). Geopark merupakan kawasan unik dengan warisan geologi yang mempunyai nilai ilmiah (pengetahuan), jarang memiliki pembanding di tempat lain, serta mempunyai nilai estetika dalam berbagai skala (Kusmahabrata dan Suwardi, 2012).

DTA Danau Toba, dalam pengajuannya disebut Geopark Kaldera Toba, mengusung Tema Gunung api (supervolcano) dengan keunikan sebagai kaldera Volkano-Tektonik Kuarter terbesar di dunia. Kawasan ini mencakup bagian dari wilayah administrasi dari tujuh kabupaten yang mempunyai pantai di Danau Toba yaitu Kabupaten Samosir, Toba Samosir,  Dairi, Karo, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, dan Simalungun (Pempropsu, 2013).

Jaringan geopark merupakan sebuah jaringan nasional dalam melakukan pelestarian sumberdaya alam melalui pendekatan multisistem untuk memahami suatu sistem kebumian serta melakukan pemberdayaan masyarakat. Penetapan kawasan Danau Toba dalam jaringan geopark dunia (Global Geoparks Network-GGN) diharapkan dapat menjadikan kawasan Danau Toba menjadi destinasi pariwisata internasional melalui perolehan keuntungan jaringan informasi dunia dan kunjungan pariwisata dunia yang akhirnya meningkatkan ekonomi masyarakat di sekitar Danau Toba.

Program jaringan geopark dunia (GGN) bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah suatu kawasan bertaraf internasional (dunia), menciptakan lapangan pekerjaan serta menciptakan dan meningkatkan masterplan pengelolaan, dan mempunyai kesediaan publikasi sebagai pertumbuhan ekonomi suatu kawasan dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Untuk menjadi anggota dalam Jaringan Global Geopark (GGN), United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) telah menetapkan berbagai persyaratan yaitu  memiliki penanggungjawab (pengelola) kawasan, mempunyai struktur manajemen yang kuat, mempunyai geosite (geologi, biologi, budaya), semua geosite terlindungi secara nyata, dan mempunyai bahan promosi (Kusmahabrata dan Suwardi, 2012; Unesco, 2010).

Dalam mendukung Danau Toba menuju jaringan Geopark Dunia, permasalahan lingkungan di kawasan Danau Toba harus tetap diperkatikan dan segera untuk perbaiki. Permasalahan lingkungan kawasan Danau Toba sudah sering menjadi sorotan publik baik secara regional, nasional hingga internasional. Laporan International Tropical Timber Organization (ITTO) tahun 2005 dalam Sanudin dan Sundawati (2009), menyatakan bahwa dalam periode tahun 1985 sampai 1997 Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba telah kehilangan lebih dari 16.000 ha kawasan hutan. BPDAS Asahan Barumun (2010) juga menggambarkan kerusakan fungsi hidrologis kawasan DTA Danau Toba melalui tingginya fluktuasi debit air antara musim hujan dan musim kemarau yang mencapai 536,84. Nilai di atas 200 tersebut menunjukkan kondisi daerah tangkapan air yang mengalami kerusakan. Kerusakan hutan diyakini akibat legitimasi yang diberikan pemerintah untuk penebangan kayu di hutan yang dilakukan tanpa Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL), pembukaan hutan untuk lahan-lahan pertanian yang tidak tekontrol, serta kebakaran hutan dan lahan yang masih kerap terjadi. Jumlah lahan terbuka dan kritis di kawasan DTA Danau Toba yang masih tinggi juga menunjukkan kualitas lingkungan yang masih rendah. Selain kerusakan di kawasan hutan, juga terjadi penurunan kualitas air danau akibat limbah keramba jaring apung, limbah bahan bakar dari kapal bermotor, limbah domestik dan kotoran ternak masyarakat maupun usaha, limbah perhotelan dan restoran yang langsung dibuang ke Danau Toba. Upaya untuk menekan laju kerusakan lingkungan di kawasan Danau Toba perlu dikerjakan dengan segera.

 

Kontributor Naskah : Rospita Odorlina P. Situmorang, STP. M.Eng.

Kontributor Foto: WM

 

Referensi:

BPDAS Asahan Barumun (2010), Kusmahabrata dan Suwardi (2012), Pempropsu (2013), Sanudin dan Sundawati (2009), Unesco (2006), Unesco (2010).

Sumber Pernah di Terbitkan di: Buletin Alami,Edisi I/2016 BP DAS Asahan Barumun

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *