Hutan Rakyat untuk Mendukung Pembangunan Danau Toba
BERITA DAN ARTIKEL / July 18, 2017

Beberapa tahun terakhir ini sering terjadi bencana alam yang umumnya diakibatkan karena banyaknya kerusakan alam khususnya kerusakan hutan dan lahan-lahan kritis. Memperhatikan hal ini maka diperlukan suatu gerakan atau kegiatan untuk mencegah agar bencana tersebut tidak terulang lagi dimasa yang akan datang. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan adalah penaman Hutan Rakyat, mengingat masih banyaknya lahan kritis ataupun lahan yang tidak produktif yang berada diluar kawasan hutan dengan kondisi masyarakatnya yang masih memerlukan pemberdayaan. Penanaman Hutan Rakyat yang dilakukan berada pada lokasi Juma Sijombing, Desa Pengambatan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sub DAS/DAS DTA Danau Toba. Pelaksanaan kegiatan ini memperhatikan jenis tanah, keadaan iklim dan curah hujan, penggunaan lahan dan vegetasi, topografi serta aksesibilitas, sarana dan prasarana. Rencana kegiatan pembuatan Kegiatan ini dimulai dengan pengumpulan data, penataan areal penanaman, persiapan sarana dan prasarana, penataan areal tanaman, persiapan kebutuhan dan jenis bibit, pengangkutan bibit, penanaman, rencana pemeliharaan, dan perlindungan tanaman. Dalam Pengumpulan data, data yang dikumpulkan adalah data Sosek dan Biofisik yang terdiri dari data primer yaitu data kondisi lingkungan, masyarakat desa setempat, mata pencaharian penduduk, keadaan tenaga kerja, serta data sarana dan prasarana. Data Biofisik  diambil langsung dari lapangan seperti pengukuran batas lokasi dengan menggunakan alat GPS, juga didapat data ketinggian tempat,…

Pengembangan Bambu untuk Rehabilitasi Lahan di Danau Toba
BERITA DAN ARTIKEL / June 22, 2017

Di DTA Danau Toba terdapat lahan kritis sekira 116.424 ha atau 42% dari daerah tangkapan air (Ginting, 2010). Program rehabilitasi di DTA Danau Toba telah dimulai sejak tahun 1950-an. Ribuan hektar lahan direhabilitasi, namun keberhasilan program dipertanyakan mengingat rendahnya kemampuan bertahan hidup tanaman (Tampubolon et al., 2005; Darwo et al., 2004). Secara rutin, tanaman rehabilitasi didominasi oleh tanaman kayu-kayuan sebagai tanaman konservasi dan buah-buahan sebagai tanaman produktif. Pengembangan MPTs di DTA Danau Toba dengan jenis alpukat, durian, mangga, duku, kemiri, jengkol, kayu manis dan cengkeh secara umum tidak berhasil karena tanaman MPTs tersebut kurang dipelihara. Penampilan tanaman MPTs yang jelek tersebut juga disebabkan kondisi lahan yang kritis dan sebagai jenis MPTs tersebut tumbuh optimal pada dataran rendah (Darwo, et al., 2004). Sedangkan tanaman bambu sebagai tanaman endemik dan tradisional dengan sifatnya multiguna belum dipertimbangkan padahal potensial sebagai tanaman rehabilitasi lahan kritis. Bambu merupakan jenis cepat tumbuh dan tidak memerlukan syarat tumbuh dan teknik budidaya terlalu rumit. Kriteria ini penting karena akan terjadi penutupan yang cepat pada lahan terbuka untuk mengurangi laju aliran permukaan dan erosi serta kemudahan dalam penanaman dan pemeliharaan tanaman (Aswandi dan Kholibrina, 2012; Harahap dan Aswandi, 2007; Friday et al, 1999). Rumpun bambu juga akan menciptakan iklim…

Pengembangan Bambu untuk Sumber Pendapatan Masyarakat dan Pariwisata di Danau Toba
BERITA DAN ARTIKEL / June 21, 2017

Tanaman bambu bukanlah jenis yang asing bagi masyarakat di sekitar Danau Toba. Hasil hutan bukan kayu ini yang sudah dikenal secara luas baik dari segi budidaya maupun pemanfaatannya di Simalungun, Dairi, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Selatan.  Potensi sumberdaya bambu ini cukup besar, namun pemanfaatannya masih terbatas untuk produk-produk seperti anyaman, keranjang, wadah pembuatan lemang, saluran air dan lainnya. Tanaman bambu ini umum ditanam sebagai pagar perkampungan (huta atau lumban) di Pulau Samosir, Balige, Laguboti, dan Porsea. Jenis yang ditanam adalah bambu duri (Nastus spp.) dalam jarak tanam yang padat sehingga dapat berfungsi sebagai benteng perkampungan. Bambu ini juga dapat dimakan setelah direndam terlebih dahulu. Di Indonesia terdapat 39 jenis bambu yang berasal dari 8 marga (Dransfield dan Wijaya dalam Krisdianto et al., 2000). Diantara keanekaragaman jenis family Graminae tersebut, sekurangnya terdapat 16 jenis bambu yang dimanfaatkan masyarakat di sekitar Danau Toba seperti bambu tali (Gigantoclhoa apus), bambu betung (Dendrocalamus asper), bambu balike (Gigantochloa pruriens), dan lain sebagainya. Bambu semakin luas penggunaannya karena kelebihan-kelebihan yang dimilikinya antara lain batangnya lurus, kuat, mudah dibelah, mudah disayat, mudah dikerjakan dan harganya relatif murah. Namun, bambu juga memiliki kelemahan alamiah akibat zat pati yang cukup tinggi sehingga rentan terhadap organisme perusak seperti jamur, serangga….

Pendidikan Lingkungan Di Usia Sekolah Dalam Rangka Mendukung Global Geopark Kaldera Toba
BERITA DAN ARTIKEL / June 19, 2017

Pendidikan lingkungan kawasan Danau Toba dengan menerapkan berbagai pendekatan hendaknya dilakukan sedini mungkin seperti misalnya pada anak-anak usia sekolah. Hal ini diperlukan kerena mereka adalah generasi penerus yang akan mengelola kawasan Danau Toba. Pendidikan lingkungan adalah pendidikan untuk menumbuhkan sikap baru terhadap komponen bumi seperti air, udara, hewan dan tumbuhan. Banyak aspek yang terintegrasi dalam pendidikan lingkungan hidup, di mana anak diajak belajar dengan alam sebagai sumber sekaligus media belajarnya. Pendidikan lingkungan di lingkup sekolah bukanlah hal yang baru tetapi mengalami sejarah yang panjang sejak abad ke 19 diawali dengan buku pelajaran tentang alam. Setelah buku tersebut banyak kegiatan yang dilakukan dengan kegiatan outdoor dengan maksud agar mampu memahami alam dengan memberi pengalaman langsung dan belajar langsung di luar kelas. Pada tahun 1920-an, pendidikan konservasi di Amerika difokuskan untuk membantu generasi muda dan semua orang dewasa memahami karakteristika, sebaran, status, penggunaan, masalah-masalah, dan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan sumber daya alam. Pendidikan konservasi mulai diterapkan di Indonesia yang saat itu diberi nama Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (Adisendjaja, 2007). Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) juga ditegaskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2015 dan merupakan salah satu prioritas pembangunan nasional (Puskurbuk, 2011). Pengembangannya dilaksanakan dengan pembentukan karakter melalui program operasional…

Pendidikan Lingkungan Bagi Masyarakat Di Sekitar Danau Toba Dalam Rangka Mendukung Global Geopark Kaldera Toba
BERITA DAN ARTIKEL / June 15, 2017

Pendidikan lingkungan merupakan salah satu faktor penting dalam meraih keberhasilan dalam pengelolaan lingkungan hidup, juga menjadi sarana yang sangat penting dalam menghasilkan sumber daya manusia yang dapat melaksanakan prinsip pembangunan berkelanjutan. Stapp, et al. (1970) menyatakan tujuan jangka panjang pendidikan lingkungan adalah mengembangkan setiap warga negara yang memiliki pengetahuan tentang lingkungan biofisik dan masalah-masalah yang terkait, membangun kesadaran agar warga negara terlibat secara efektif dalam bertindak menuju pengembangan masa depan yang lebih dapat dihuni, dan memiliki motivasi untuk melakukannya. Pendidikan lingkungan tidak akan merubah situasi dan kondisi yang telah rusak menjadi baik dalam waktu sekejap, melainkan membutuhkan waktu, proses dan sumber daya. Berdasarkan persyaratan penetapan geopark yang ditetapkan oleh UNESCO, dalam persyaratan dan penilaiannya, terdapat keterpaduan pengelolaan geologi, biologi dan budaya. Satu hal yang cukup menarik dalam konsep geopark tersebut adalah bahwa peran serta masyarakat lokal yang melibatkan pengetahuan dan pemahaman pada geopark merupakan salah satu butir/point yang dinilai. Berkaitan dengan upaya pelestarian lingkungan, maka konservasi kawasan harus dikerjakan masyarakat lokal secara sungguh-sungguh karena merekalah yang sehari-harinya hidup disekitarnya. Oleh karena itu, wawasan lingkungan merupakan salah satu modal yang harus dimiliki oleh masyarakat yang bermukim dikawasan geopark. Peningkatkan wawasan lingkungan dapat dilakukan melalui pendidikan lingkungan yang dapat dilakukan dengan berbagai…

DANAU TOBA MENUJU JARINGAN GEOPARK DUNIA
BERITA DAN ARTIKEL / June 13, 2017

Danau Toba yang dikenal sebagai daerah tangkapan air (cathment area) memiliki keunggulan tersendiri karena di tengah kawasan terdapat sebuah danau yang luas, yang memiliki keindahan luar biasa. Danau Toba merupakan danau tektonik terluas di dunia. Di dalam kawasan terdapat berbagai aktifitas manusia yang sebagian besar memanfaatkan keberadaan Danau Toba sebagai sumber mata pencaharian dan sekaligus melahirkan berbagai kebudayaan yang berkaitan erat dengan Danau Toba.  Dengan letak geografis, fungsi, dan potensi yang ada, secara umum keberadaan kawasan Danau Toba digolongkan dalam 2 jenis peran strategis, yaitu sebagai kawasan lindung tangkapan air yang menopang wilayah-wilayah di bawahnya, serta sebagai kawasan ekonomis budidaya. Dalam rangka mengangkat potensi kawasan Danau Toba, pemerintah telah menetapkan Danau Toba sebagai salah satu geopark nasional yang ditetapkan pada tanggal 7 Oktober 2014 dan sedang diusulkan masuk kedalam jaringan geopark dunia tahun 2015. Geopark, disebut juga taman bumi, merupakan kawasan lindung nasional yang berisi sejumlah situs warisan geologi penting, langka atau mengandung unsur estetika. Situs warisan bumi ini merupakan bagian dari konsep terpadu perlindungan, pendidikan, dan pembangunan yang berkelanjutan (Unesco, 2006). Geopark merupakan kawasan unik dengan warisan geologi yang mempunyai nilai ilmiah (pengetahuan), jarang memiliki pembanding di tempat lain, serta mempunyai nilai estetika dalam berbagai skala (Kusmahabrata dan Suwardi,…

Model IAAS (Integrated Agroforestry Apiculture System) untuk Pemulihan Ekosistem dan Kesejahteraan Masyarakat di Danau Toba
BERITA DAN ARTIKEL / May 31, 2017

Model IAAS dalam prakteknya digambarkan sebagai penggabungan antara sistem agroforestry dengan budidaya lebah madu Apis dan Trigona untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan dan penggalian alternatif mata pencaharian masyarakat. Dalam pelaksanaannya, model IAAS ini memerlukan serangkaian kegiatan berupa penyiapan kelompok tani, pengelolaan produksi, dan pengelolaan pemasaran.

PROGRES RENCANA AKSI DINAS KEHUTANAN PROV. SUMATERA UTARA DALAM MENDUKUNG KAWASAN DANAU TOBA MENJADI KAWASAN PARIWISATA NASIONAL
BERITA DAN ARTIKEL / May 17, 2017

Dalam Upaya Revitalisasi Danau Toba yang merupakan salah satu kawasan Strategis Pariwisata Nasional dari 10 Destinasi Wisata Prioritas dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2017, Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara (Dishutprov Sumut)adalah salah satu satker lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang merupakan bagian dari Sekretariat Bersama Revitalisasi Danau Toba mendukung penuh percepatan pembangunan kawasan Danau Toba menjadi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Bentuk nyata dukungan pembangunan kawasan Danau Toba, Dishutprov Sumatera Utara adalah disusunnya Rencana Aksi Terpadu Penanganan Kawasan Danau Toba 2016-2018 antara lain meliputi: Penanganan Penebangan Hutan Kegiatan Rehabilitasi Hutan Penataan Batas Kawasan Hutan Penataan Kawasan Pariwisata Danau Toba Progres tindak lanjut dalam penanganan penebangan hutan yang terjadi di tujuh Kabupaten Kawasan Danau Toba, Dishutprov Sumut telah menyampaikan draft Surat kepada Gubernur Sumatera Utara tentang Penghentian Penerbitan Surat Keterangan Asal Usul (SKAU)  yang ditujukan kepada Bupati di tujuh Kabupaten/Kota di Kawasan Danau Toba sebagai pemangku kawasan, sesuai dengan Nota Dinas Kadishut No. 522/2089 tanggal 29 Agustus 2016. Selain itu, Dishutprov Sumut telah menyurati Balai Pengelolaan Hutan Produksi (BPHP) Wilayah II dengan surat No. 522/2088 tanggal 29 Agustus 2016 tentang Evaluasi dan Pencabutan Izin Penerbit SKAU di Kawasan Danau Toba. Untuk kegiatan Rehabilitasi Hutan, progress tindak lanjut dari rencana aksi…

EKOWISATA Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli
BERITA DAN ARTIKEL / May 3, 2017

Sejarah Singkat Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli merupakan kawasan yang ditetapkan oleh pemerintah untuk kepentingan penelitian dan pengembangan kehutanan. Pembentukan KHDTK merupakan amanat Undang-Undang no. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, dimana pemerintah dapat menetapkan kawasan hutan tertentu untuk tujuan khusus yaitu: (a) penelitian dan pengembangan, (b) pendidikan dan latihan, serta (c) religi dan budaya. Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli merupakan salah satu KHDTK yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 39/Menhut-II/2005, tanggal 7 Pebruari 2005 dengan luasan 1.900 Ha. Secara geografis KHDTK Aek Nauli terletak diantara 2˚ 41’ – 2˚ 44’ LU dan 98˚ 57’ – 98˚58’ BT dan secara administratif termasuk pada Desa Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Kawasan ini merupakan daerah pegunungan pada ketinggian sekitar 1.100 – 1.750 meter dari permukaan laut dengan kemiringan antara 3 – 65 %. Gambar 1. Pintu Masuk Ekowisata KHDTK Aek Nauli Aksesibilitas Kawasan KHDTK Aek Nauli memiliki aksesibilitas yang mudah dilalui karena terdapat di pinggir jalan propinsi yang menuju Kawasan Danau Toba. Untuk menuju ke kawasan dapat ditempuh dengan rute yaitu dari Medan (Bandara Kualanamu jika berada diluar Sumatera Utara) – Pematangsiantar – Parapat  dengan jalan darat menggunakan kendaraan pribadi maupun…

GAMBARAN UMUM DANAU TOBA
BERITA DAN ARTIKEL / April 27, 2017

A. Kondisi Umum Danau Toba adalah danau kaldera terbesar di dunia yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, berjarak 176 km ke arah Barat Kota Medan sebagai ibu kota provinsi. Danau Toba (2,88o N – 98,5o 2 E dan 2,35o N – 99,1o E) adalah danau terluas di Indonesia (90 x 30 km2). Danau Toba merupakan danau vulkanotektonik, terbentuk kira-kira 75.000 tahun yang lalu akibat dari letusan gunung api dan amblasnya tanah secara tektonik. Letusan tersebut membentuk lubang kawah raksasa dan menjadi sebuah danau. Pada Bagian yang tidak runtuh membentuk sebuah pulau yang dikenal dengan Pulau Samosir Kawasan ini mencakup bagian dari wilayah administrasi dari 7 (tujuh)  kabupaten yaitu Kabupaten Samosir, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Dairi, Kabupaten Karo, Kabupaten Humbang Hansudutan, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Simalungun  Secara detail kecamatan-kecamatan yang sebahagian atau seluruh wilayahnya masuk ke dalam DTA Danau Toba disajikan dalam Tabel 1. dan profil kawasan Danau Toba, disajikan pada table 2. Tabel 1. Cakupan Wilayah Danau Toba Tabel 2. Profil Kawasan Danau Toba B. Pemanfaatan Kawasan Danau Toba 1. Sumber Air Minum Masyarakat memanfaatkan air Danau Toba sebagai sumber air minum dan keperluan domestik lainnya.  Dimana kawasan ini terdapat tiga perusahaan daerah air minum (PDAM) yaitu PDAM Balige, PDAM Laguboti…