Pengembangan Bambu untuk Rehabilitasi Lahan di Danau Toba

June 22, 2017

Danau Toba

Di DTA Danau Toba terdapat lahan kritis sekira 116.424 ha atau 42% dari daerah tangkapan air (Ginting, 2010). Program rehabilitasi di DTA Danau Toba telah dimulai sejak tahun 1950-an. Ribuan hektar lahan direhabilitasi, namun keberhasilan program dipertanyakan mengingat rendahnya kemampuan bertahan hidup tanaman (Tampubolon et al., 2005; Darwo et al., 2004). Secara rutin, tanaman rehabilitasi didominasi oleh tanaman kayu-kayuan sebagai tanaman konservasi dan buah-buahan sebagai tanaman produktif. Pengembangan MPTs di DTA Danau Toba dengan jenis alpukat, durian, mangga, duku, kemiri, jengkol, kayu manis dan cengkeh secara umum tidak berhasil karena tanaman MPTs tersebut kurang dipelihara. Penampilan tanaman MPTs yang jelek tersebut juga disebabkan kondisi lahan yang kritis dan sebagai jenis MPTs tersebut tumbuh optimal pada dataran rendah (Darwo, et al., 2004). Sedangkan tanaman bambu sebagai tanaman endemik dan tradisional dengan sifatnya multiguna belum dipertimbangkan padahal potensial sebagai tanaman rehabilitasi lahan kritis.

Bambu merupakan jenis cepat tumbuh dan tidak memerlukan syarat tumbuh dan teknik budidaya terlalu rumit. Kriteria ini penting karena akan terjadi penutupan yang cepat pada lahan terbuka untuk mengurangi laju aliran permukaan dan erosi serta kemudahan dalam penanaman dan pemeliharaan tanaman (Aswandi dan Kholibrina, 2012; Harahap dan Aswandi, 2007; Friday et al, 1999). Rumpun bambu juga akan menciptakan iklim mikro di sekitarnya, sedangkan hutan bambu dalam skala luas pada usia yang cukup dapat dikategorikan sebagai satu satuan ekosistem yang lengkap. Kondisi hutan bambu memungkinkan mikro organisme dapat berkembang bersama dalam jalinan rantai makanan yang saling bersimbiosis.

Merupakan hal yang sulit untuk menerapkan teknik penanaman konvensional dalam merehabilitasi lahan kritis dan terbuka luas apalagi jika telah terkolonisasi alang-alang (Aswandi dan Kholibrina, 2012; Friday et al., 1999). Kemampuan bambu yang mampu berdaptasi pada kondisi lingkungan yang ekstrim seperti ketersediaan unsur hara yang rendah, suhu relatif tinggi, kamasaman tanah tinggi, drainase kurang baik, kelembaban rendah, dan intensitas cahaya tinggi merupakan hal pendukung yang harus dipertimbangkan  dalam  pemilihan sebagai  jenis rehabilitasi. Tanaman bambu mempunyai sistem perakaran serabut dengan akar rimpang yang sangat kuat. Karakteristik perakaran bambu memungkinkan tanaman ini menjaga sistem hidrologis sebagai pengikat tanah dan air, sehingga dapat digunakan sebagai tanaman konservasi. Tajuk rumpun bambu yang lebar dan padat dalam upaya mengurangi energi kinetik hujan yang sampai di lantai hutan (mengurangi erosi permukaan).

Bambu

Sebagai tanaman dengan manfaat ganda, bambu merupakan HHBK potensial untuk bahan baku industri, tanaman rehabilitas lahan dan pengembangan pariwisata di Danau Toba. Berdasarkan penelitian PT Persada Alnita Lestari (2003) dalam Danaatmajai (2007), pembangunan Hutan Tanaman Bambu pada tahun pertama memerlukan, biaya Rp. 10.137.000 dari mulai perencanaan sampai pemeliharaan. Pada tahun ke 2 sampai tahun ke 4 diperlukan biaya sebesar Rp. 1.402.900/ha. Apabila daur pengusaha hutan bambu selama 20 tahun, maka kebutuhan dana total mencapai Rp. 87.960.100/ha. Dengan perolehan hasil sebesar Rp. 767.520.000. Secara analisis finansial investasi pembangunan hutan tanaman bambu dengan indikator interest 18% per tahun dan dengan metode discounting dari tahun pertama sampai tahun akhir daur perusahaan (20 tahun) menghasilkan Net Present Valute (NPV) sebesar 56% sehingga pengusaha bambu ini dikategorikan layak. Ditinjau dari perhitungan B/C ratio didapat hasil 5,65 dengan payback period dicapai pada tahun ke-4.

Jenis-jenis bambu yang terbatas dibudidayakan memberi peluang bagi upaya peningkatan keanekaragaman jenis. Penanaman berbagai jenis bambu dapat menjadi sumberdaya genetik (genetic pool) bagi pengembangannya di masa datang baik untuk sumber bahan baku industri maupun rehabilitasi lahan.

 

Kontributor Naskah: Aswandi dan Hiras Sidabutar

 

Referensi:

Ginting (2010); Tampubolon et al.(2005); Darwo et al.(2004); Aswandi dan Kholibrina, (2012); Harahap dan Aswandi (2007); Friday et al (1999); Danaatmajai (2007).

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *